Pada hari ke-7 di Epithymies, suasana nyaman dan hangat masih memeluk, memancarkan pesona yang sama seperti sebelumnya. Setiap orang, termasuk Shaquila, terasa seakan tenggelam dalam kenyamanan kota ini. Shaquila merasakan getaran kebahagiaan yang menyatu dengan sekelilingnya.
Seiring berlalunya waktu, Shaquila telah menghabiskan waktu untuk menjelajahi banyak tempat menarik di sini. Shaquila telah mengunjungi Epiville, sebuah tempat yang mengagumkan untuk berbagai acara, termasuk konser-konser megah yang selalu menyita perhatian. Tak hanya itu, Shaquila juga tak ketinggalan mencicipi hidangan lezat di Epimunch, restoran terkenal yang dimiliki oleh seorang bernama Esther.
Shaquila rutin mengunjungi Epimunch untuk makan siang, entah sendiri atau bersama temannya yang juga berada di Epithymies. Namun, dalam beberapa kunjungannya ke Epimunch, Shaquila merasa ada yang berbeda.
Ada seorang nenek tua yang selalu melintas di depannya. Ketika mata mereka bertemu, Shaquila merasa seperti sedang diseret masuk ke dalam alam mimpi buruk. Tatapannya memiliki kedalaman yang tak tergambarkan dengan kata-kata, wajahnya tanpa senyum sedikit pun. Ia terlihat ingin menyampaikan sesuatu, tapi Shaquila tak pernah benar-benar memahami pesan di balik matanya yang intens. Anehnya, meskipun ia tampak sangat tertarik pada Shaquila, ia tak pernah mencoba untuk berbicara atau menunjukkan maksudnya.
Seiring hari-hari berjalan, wanita tua itu menjadi bagian tak terpisahkan dari rutinitas Shaquila. Shaquila melihatnya muncul di berbagai sudut kota, dan kadang ia muncul saat dirinya berada di Epimunch. Matanya selalu fokus pada Shaquila, dan tatapannya terasa seperti ia ingin menelannya hidup-hidup atau mengirimkan pesan yang mendalam melalui pandangan matanya. Meskipun Shaquila merasa bingung dan sedikit tidak nyaman karena jujur... ia sangat takut, Shaquila juga merasa ada kekuatan tak terungkapkan dalam tatapannya.
Terlalu memikirkan hal tersebut, Shaquila akhirnya menceritakan hal itu kepada teman-temannya di keesokan harinya.
“Gue kalau ke Epimunch nggak pernah lihat orang itu, sih, Sha.” “Mungkin emang orangnya kalau natap tuh begitu, kali?” “Kebetulan ketemu doang, kali?” Hanya itu respon teman-temannya. Memang, sih, mungkin memang orangnya seperti itu dan pertemuan mereka hanyalah kebetulan. Jadi, Shaquila tak ambil pusing lagi tentang hal itu.
Kemudian, pada suatu hari Senin yang cerah, Shaquila memutuskan untuk makan di Epimunch. Tapi kali ini, ia mendapati bahwa restoran yang biasanya ramai, kini sepi. Satu-satunya orang di sana adalah wanita tua misterius itu, yang kembali memancarkan tatapan yang selalu sama. Shaquila awalnya merasa ragu berada di sana, tetapi akhirnya memutuskan untuk tetap tinggal dan menunggu pesanan makanannya tiba, meskipun rasanya agak tidak nyaman. Ia mencoba untuk tidak menghiraukan wanita tua tersebut dengan fokus pada iPad-nya.
Waktu berlalu, dan Shaquila merasakan perasaan campuran antara penasaran dan canggung. Pesanannya tak kunjung datang, dan restoran tetap sepi tanpa adanya pengunjung lain. Tatapan wanita tua itu tetap pada dirinya, dan meskipun ada rasa ketidaknyamanan yang semakin dalam, Shaquila merasa ada hubungan tak terucapkan antara mereka.
Akhirnya, makanan Shaquila datang, dan ia memutuskan untuk makan di bawah tatapan penuh perhatian wanita tua tersebut. Dalam hatinya terus bertanya “Kapan wanita tersebut pergi?” Meskipun situasinya aneh, perasaannya mulai berubah dari rasa tidak nyaman menjadi perasaan koneksi yang aneh namun kuat. Seperti ada pemahaman yang melampaui kata-kata biasa di antara mereka.
Tiba-tiba, sosok tua itu berdiri dan perlahan-lahan mendekati Shaquila. Tatapannya begitu kuat, seperti ia bisa melihat jauh lebih dalam daripada sekadar mata biasa. Shaquila merasa terhipnotis olehnya, tak bisa menghindari pandangannya yang mencekam.
Darahnya membeku, dan Shaquila merasa seolah-olah ia tenggelam dalam mimpi buruk merasa yang tidak bisa ia atasi. Wanita tua itu berbicara, suaranya keras dan penuh dengan kegelapan, “Aku telah menunggumu di dalam bayangan, dan kau telah datang seperti yang aku harapkan.”
Shaquila merasakan keberadaan sosok tua ini adalah sesuatu yang jauh lebih gelap dan mengerikan daripada yang pernah ia bayangkan. Dan sekarang, Shaquila merasa terjebak dalam jebakan yang lebih dari sekadar ketidaknyamanan. Shaquila merasa terjebak dalam kengerian yang tak bisa ia akui dan tak bisa diungkapkan kepada siapapun.
“Kau berada di sini pasti karena memiliki mimpi besar. Dan tugasku adalah menghancurkan mimpimu.” Ia berbicara lagi, kali ini suaranya lebih keras dan tajam hingga Shaquila bisa merasakan tertusuk oleh kalimat tersebut.
Shaquila ingin lari, tapi kakinya seolah terikat hingga ia tak dapat bergerak. Ia ingin berteriak dan mengatakan bahwa ia sangat takut, tapi mulutnya seolah dikunci. Lalu, saat wanita tua tersebut semakin mendekat dan ingin menyentuh tangannya, sosoknya tiba-tiba melebur hancur bagaikan abu dan menghilang begitu saja. Sosok lain datang, ia sangat penuh cahaya dan kekuatan.
Sosok tersebut mengatakan bahwa dirinya adalah penjaga Epithymies dan ialah yang menyingkirkan segala kegelapan yang mengancam seisi kota ini. Shaquila merasa campuran antara keterkejutan dan kelegaan. Sosok ini adalah balasan atas rasa takut yang telah menyelimuti hatinya tadi. Dalam keadaan yang masih gemetar, Shaquila merasa bahwa Epithymies memang menyimpan rahasia, tetapi juga memiliki kekuatan yang mampu melawan kegelapan yang mengancam.